elmaslak

Apakah Surga Hanya Untuk Muslim?

Retno Prayudi

Retno Prayudi

diterbitkan pada 14/12/2025

Apakah Surga Hanya Untuk Muslim?

Dalam sebuah wawancara bertajuk ‘Nur al-Din’ yang ditayangkan pada tanggal 11 maret 2024 oleh kanal youtube ON, syaikh Ali Jum’ah menjawab pertanyaan sejumlah anak-anak yang hadir pada acara tersebut. Terdapat sebuah pertanyaan menarik yang diajukan dari salah satu mereka; Mengapa surga saat ini dikhususkan hanya untuk orang muslim saja? Padahal umat Yahudi juga diturunkan pada mereka seorang rasul dan sebuah kitab, begitupun Nashrani. Syaikh Ali Jumah, langsung merespon pertanyaan tersebut, bahwa claim (surga hanya milik orang Islam) tidaklah tepat. Lalu ia membawa keterangan pada surah al-Baqarah ayat 62:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ayat ini secara jelas menerangkan bahwa Surga tidak diperuntukkan oleh umat muslim saja, ada ruang untuk non muslim, selama mereka beriman kepada Allah, melakukan kebaikan, maka surga baginya. Jelas Syaikh Ali Jum’ah. Lalu kemudian ia mengambil dalil dengan surah Ali ‘Imran ayat 19.

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإِسْلامُ

Hakikatnya, seluruh ajaran yang dibawa oleh para nabi terdahulu adalah Islam, maka Nabi Musa merupakan Islam, nabi Isa merupakan Islam yang juga mendapat penerimaan dari Allah swt. Tutup penjelasan Syaikh Ali Jumah.

Penjelasan singkat ini ternyata berdampak pada respon besar yang beragam, serta menimbulkan banyak spekulasi. Terlebih, Syaikh Ali Jumah yang berkapasitas sebagai seorang mantan mufti, ungkapannya tentu sangat dipertimbangkan. Sayangnya, ia tidak menjelaskan secara lebih jauh dalam acara tersebut. Apakah ayat al-Baqarah yang dimaksud berlaku untuk masa pra Islam atau pasca Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad?

Sejujurnya, jika persoalan tersebut dibawa pada masa sebelum datangnya Nabi, mayoritas ulama sepakat, dan ungkapannya akan relevan. Muhammad Abduh dalam tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ayat ini (al-Baqarah: 62) ditujukan kepada umat Yahudi dan Nashrani sebelum datangnya Nabi Muhammad. Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya, yang mana Allah akan mengazab dan memasukkan Yahudi dan Nashrani ke dalam Neraka karena kedurhakaan mereka pada Allah. Kecuali, mereka yang beriman kepada Allah dan melakukan perbuatan baik. Tentu ayat ini menjadi pengecualian dari sebagian mereka (Yahudi dan Nashrani) dan berhak dimasukkan ke dalam surga. Lalu bagaimana status umat Yahudi dan Nashrani pasca kedatangan Nabi Muhammad? ini yang kemudian menjadi perdebatan. Dan juga sebagai penjelasan global dari Syaikh Ali Jumah.

Penulis secara pribadi, telah meneliti beberapa respon yang ditimbulkan atas pernyataan sang mufti, setidaknya ada dua sikap. Pertama, terdapat tokoh-tokoh yang kemudian mencoba mengklarifikasi atau menjelaskan maksud pernyataan Syaikh Ali Jumah. Kedua, tokoh-tokoh yang menelan secara mutlak pernyataan syaikh Ali Jum’ah dan langsung menuduhnya sebagai pernyataan yang menyesatkan. Namun, kali ini penulis ingin menghadirkan sejumlah tokoh yang mencoba untuk mengklarifikasi pernyataan syaikh Ali Jumah.

Ali Jumah

Terdapat Syaikhah Su’ad Salih, seorang dekan fakultas Dirasat Islamiyyah lil al-Banat Universitas Al-Azhar, menyatakan kesepakatannya terhadap Syaikh Ali Jum’ah, bahkan ia memberikan klarifikasi yang dimaskud dari pernyataan Syaikh Ali Jumah. Sebetulnya, menurut Syaikhah Su’ad, surga tidak dikhususkan untuk orang muslim saja dengan beberapa ketentuan, bahkan ia menegaskan pernyataannya tersebut dapat ia pertanggung jawabkan. Melalui sebuah wawancara pada kanal youtube MBC Egypt yang bertajuk Kalam al-Nas pada tanggal 21 April 2024, syaikhah Suad lalu menjelaskan bahwa Allah adalah Alim al-Ghaib wa al-Syahadah, ia juga memiliki hak prerogratif memasukkan seseorang ke dalam surga ataupun neraka. Ini adalah ketentuan Allah yang hanya diketahui olehnya. Sehingga, dapat disimpulkan, bahwa nantinya, surga tidak hanya akan diisi oleh orang muslim saja, ada kemungkinan akan diisi orang selain muslim. Dengan catatan, ketentuan ini merupakan wilayah Allah, dan kita tidak bisa mengaturnya. Sederhananya, penulis melihat bahwa Syaikhah Suad ingin menyampaikan bahwa surga tidak hanya diisi orang muslim saja, akan ada orang lain selain muslim yang mungkin dimasukkan oleh Allah dengan alasan yang hanya diketahui Allah saja.

Begitupun Grand syaikh Ahmad Thayyib, pernah juga mengulas dalam salah satu wawancara melalui chanel resmi Al-Azhar Al-Syarif pada tanggal 19 Juni 2016, meskipun tidak sebagai klarifikasi atas pernyataan Syaikh Ali Jumah, namun ia membawa pesan tersirat bahwa surga tidak hanya diisi oleh muslim saja. Jika ditarik pada era kekinian, syaikh Ahmad Thayyib juga menjelaskan, ketika ada seseorang secara individual bahkan secara komunal tidak pernah mengetahui siapa Nabi Muhammad dan Islam, juga tidak pernah ada dakwah yang sampai kepada mereka tentang Nabi Muhammad dan Islam, maka mereka termasuk ke dalam golongan yang dianalogikan dengan ahlu al-fathrah. Mereka selamat dari siksa neraka. Ini adalah bentuk keadilan dari Allah, tegasnya.

Penulis juga melihat, bahwa penjelasan Syaikh Ahmad al-Thayyib memiliki keserupaan dengan keterangan dari Syaikh Mahmud Syaltut dalam karyanya berjudul al-Islam; Aqidatan wa Syari’atan, juga dalam penjelasan Syaikh Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar, penjelasan keduanya memiliki kesamaan objek, yakni terhadap orang yang berada dalam pelosok negeri, orang-orang yang tidak memungkinkan dakwah Islam masuk kepada mereka karena berbagai hal. Artinya, orang semacam ini, tidak mengetahui sama sekali, dan tidak pernah terdengar oleh mereka berkenaan dengan dakwah Islam. Maka mereka, menurut Syaikh Mahmud Syaltut dan Syaikh Rasyid Ridha adalah orang yang selamat dari siksa neraka dan masuk ke dalam surga, padahal mereka bukan muslim.

Kesimpulan yang dapat penulis ambil ialah, pernyataan syaikh Ali Jumah yang dipaparkan secara ringkas, sebetulnya memiliki dua hal tersirat. Pertama, Ia ingin menegaskan bahwa surga tidak dimonopoli oleh umat Islam saja, ada kemungkin seorang dari Yahudi ataupun Nashrani, baik sebelum dan sesudah datangnya Islam akan dimasukkan kedalam surga dengan hak prerogratif Allah dan alasan yang hanya diketahui oleh Allah SWT. Selain itu, pada era kekinian juga masih terdapat sekelompok kaum yang diserupakan dengan ahlul fathrah sebagai orang yang selamat dari siksa neraka, sehingga, tepat jika pernyataannya; Surga tidak dimonopoli oleh umat Islam saja. Namun, yang perlu diperhatikan ialah, Syaikh Ali Jumah tidak pernah mengatakan semua agama akan masuk surga seperti yang dipahami oleh pluralis.

Kedua, ia juga ingin menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nashrani di masa ini, yang pernah mendengar bahkan dakwah Islam sampai pada mereka, lalu mereka tetap mengingkari beriman kepada Allah, Nabi Muhammad dan mati dalam keadaan tersebut, jelas sudah kedudukan mereka di akhirat kelak adalah neraka. Ini terbukti dari sejumlah fatwa yang dikeluarkan oleh syaikh Ali Jumah. Salah satunya melalui kitab al-Bayan li Man Asyghala al-Adzhan ia menegaskan bahwa keimanan terikat pada kepercayaan mutlak kepada Allah sebagai tuhan yang patut disembah dan beriman kepada Nabi Muhammad, serta melakukan perbuatan baik sebagaimana tuntunan yang disyariatkan kepada Nabi Muhammad. Sehingga, sikap tersebut tidaklah bertentangan dengan ayat-ayat yang menjelaskan bahwa Yahudi dan Nashrani kekal di dalam neraka. Perkara ini jelas, sudah banyak disepakati oleh banyak ulama. Begitupun dengan syaikh Ali Jumah. Sederhananya, terdapat syarat dan ketentuan khusus bagi non-muslim seperti apa yang dapat masuk surganya Allah.

Bagikan Artikel:

Link berhasil disalin!