elmaslak

Zaid ibn Tsabit Bukanlah Penulis Wahyu Pertama

Retno Prayudi

Retno Prayudi

diterbitkan pada 14/12/2025

Zaid ibn Tsabit Bukanlah Penulis Wahyu Pertama

Penulisan al-Quran yang diperintahkan secara resmi oleh Rasulullah terjadi pada awal Nabi Muhammad menginjakan kaki di Madinah. Fadhl Hasan Abbas bahkan menyebut saat nabi berada di Madinah, perintah resmi dari nabi untuk menyalin ulang teks al-Quran yang telah ditulis pada periode Makkah. Ini menunjukan bahwa al-Quran sudah dituliskan sejak periode Makkah dan penulisan secara resmi terjadi ketika Nabi Muhammad di Madinah. Pertanyaan yang menarik ialah, apakah Zaid ibn Tsabit adalah sosok satu-satunya yang menjadi sekretaris dalam menulis al-Quran?

Mahmud Syakir melalui karyanya berjudul al-Ahruf al-Sab’ah yang dikenal sebagai ahli filologi dan pakar tahqiq turats membuka fakta yang menegaskan bahwa penulis al-Quran yang ditunjuk pertama kali oleh Nabi Muhammad bukanlah Zaid ibn Tsabit. Melainkan Ubay ibn Ka’ab. Hal ini dapat dibuktikan secara historis dan riwayat yang ada, bahwa ketika Nabi Muhammad pertama kali datang ke Madinah, ia bertemu sekelompok anak kecil yang sedang belajar menulis dan membaca. Salah satu di antara mereka terdapat sosok Zaid ibn Tsabit kecil yang baru berusia sebelas tahun. Apakah mungkin anak berusia sebelas tahun mampu mengemban amanah sebagai penulis wahyu? Tentu tidak. Sehingga, sahabat pertama yang dipilih oleh Rasulullah adalah Ubay ibn Ka’ab yang sebelumnya bertugas sebagai sekretaris untuk menuliskan surat kepada beberapa raja saat di Makkah, lalu ketika di Madinah ia mendapat tugas tambahan berupa penulisan wahyu.

kodifikasi al-Quran

Baca Juga: Merespon Pandangan Surah Al-Fatihah Sebagai Wahyu Pertama

Lalu, pasca perang Badr pada tahun kedua Hijriyyah dimana Ziad ibn Tsabit telah berislam, ia mendapat perintah dari Nabi Muhammad untuk lebih mendalami kepenulisan dengan para tawanan Badr yang kala itu diwajibkan mengajarkan kecakapan tulis menulis kepada muslim. Sekitar usia 13 tahun, Zaid ibn Tsabit sudah terlihat kecerdasannya, ia diperintah Nabi untuk membantu Ubay ibn Ka’ab dalam hal kesekretariatan. Selama kurang lebih tiga tahun membersamai Ubay ibn Ka’ab, dan dirasa cukup mumpuni dalam dunia kesekretariatan, barulah ketika ia berusia 16 tahun dipilih sebagai penulis wahyu secara resmi oleh Nabi Muhammad sebagai pengganti Ubay ibn Ka’ab. Inilah yang menjadi alasan era Abu Bakr dan ’Utsman menunjuk Zaid ibn Tsabit dipercaya sebagai penulis wahyu al-Quran, sebab ia merupakan sosok yang dipercaya oleh Nabi Muhammad secara langsung.

Pertanyaan selanjutnya, apakah Zaid ibn Tsabit sebagai satu-satunya penulis wahyu? Bagaimana memadukan riwayat yang menyebutkan bahwa penulis wahyu adalah empat orang, bahkan Abii Daud menyebut penulis wahyu terdapat dua belas orang. Bagaimana menanggapi ini? Dalam kitab berjudul Jam’u al-Quran al-Karim baina al-Haqa’iq al-Tsabitah wa al-Syubhat al-Habithah halaman 117 yang ditulis oleh ’Abd al-Hamid al-Najjar menyebut bahwa riwayat dan data sejarah yang menyebut  Zaid ibn Tsabit seorang diri sebagai penulis wahyu, penyebutna tersebut berada dalam konteks menyebut ketua tim kodifikasi. Lalu, ketika menyebut terdapat emapt orang penulis wahyu, penyebutan mereka mengarah pada ketua tim dan anggota inti yang terlibat dalam penulisan wahyu era Abu Bakr dan ’Utsman. Lalu, riwayat dari Abi Daud yang menyebut terdapat dua belas penulis wahyu, ialah sahabat yang dipilih oleh ’Utsman sebagai anggota tambahan untuk membantu tim inti dalam menuliskan wahyu al-Quran yang disalin ke dalam enam salinan untuk disebarkan ke seluruh penjuru negeri. Sehingga, riwayat yang ada, tidaklah saling bertentangan.


Bagikan Artikel:

Link berhasil disalin!

Rekomendasi Untuk Anda

Berikut beberapa artikel menarik lainnya yang mungkin Anda sukai