elmaslak

Badai al-Tuffan Zaman Nabi Nuh; Global atau Lokal?

Retno Prayudi

Retno Prayudi

diterbitkan pada 08/01/2026

Badai al-Tuffan Zaman Nabi Nuh; Global atau Lokal?

Banjir bandang atau badai al-Ṭūfān yang menimpa kaum Nabi Nūḥ menjadi perbincangan para mufassir, baik dari kalangan pertengahan maupun modern. Perdebatan utama yang muncul adalah apakah banjir tersebut terjadi di seluruh daratan dunia atau hanya pada sebagian wilayah tertentu saja.

Pada era modern, perbedaan pendapat serupa juga kembali mengemuka. Muḥammad Syahrūr, misalnya, merupakan salah satu tokoh modernis yang aktif mengulas kisah-kisah dalam al-Qurʾān secara independen. Ia bahkan menggunakan pendekatan yang berbeda melalui pembacaan kontemporer (Qirāʾah Muʿāṣirah), khususnya dengan pendekatan sosiologis-antropologis.

Dalam pandangan Syahrūr, peristiwa banjir bandang tersebut hanya terjadi pada sebagian areal tertentu. Menurutnya, umat Nabi Nūḥ menempati wilayah kaki gunung, sehingga ketika air datang menerjang, seluruh aliran air turun menuju kawasan tempat mereka tinggal. Akibatnya, banyak dari umat Nabi Nūḥ yang wafat. Selain itu, Syahrūr juga menduga bahwa pada masa tersebut kemampuan manusia untuk berenang belum dikenal secara umum, sehingga hal itu menjadi salah satu faktor utama penyebab kematian.

Baca Juga: Alasan Al-Azhar Menolak Penerapan Hermeneutika Terhadap Al-Quran

محمد شحرور

Lebih lanjut, Syahrūr menambahkan bahwa apabila Allah benar-benar menghendaki kehancuran umat Nabi Nūḥ, maka tidak ada keharusan untuk menghancurkan seluruh umat manusia lain yang tinggal di wilayah seperti India, Cina, atau bahkan Jepang. Ia kemudian menjadikan Surah al-Anʿām ayat 164 sebagai landasan argumennya:

قُلْ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْ رَبًّا وَّهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍۗ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ اِلَّا عَلَيْهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰىۚ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ مَّرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيْهِ تَخْتَلِفُوْنَ

Ayat ini menegaskan bahwa setiap individu hanya menanggung dosanya sendiri dan tidak memikul dosa orang lain. Dari sini, seakan-akan Syahrūr membantah pandangan bahwa badai al-Ṭūfān terjadi secara global, sebab hal tersebut dinilai bertentangan dengan risalah Nabi Nūḥ yang hanya ditujukan kepada segolongan umat tertentu, bukan kepada seluruh umat manusia. Dengan kata lain, jika umat Nabi Nūḥ yang durhaka, mengapa manusia lain yang hidup di wilayah India, Cina, dan Jepang juga harus ikut terimbas, padahal mereka tidak memiliki kewajiban untuk beriman kepada Nabi Nūḥ?

Berdasarkan argumentasi tersebut, Syahrūr menyimpulkan bahwa badai al-Ṭūfān pada masa Nabi Nūḥ tidak pernah terjadi secara global, melainkan merupakan bencana lokal yang tidak memusnahkan seluruh manusia. Sementara itu, Rasyīd Riḍā dalam Tafsīr al-Manār mengemukakan pandangan yang sedikit berbeda. Menurutnya, meskipun badai al-Ṭūfān tidak terjadi di seluruh dunia, jumlah manusia pada masa itu masih sangat terbatas dan terkonsentrasi di satu wilayah saja, yaitu wilayah tempat kaum Nabi Nūḥ bermukim.

Dengan demikian, badai al-Ṭūfān membinasakan seluruh kaum tersebut, baik yang berada di kaki gunung maupun di atas gunung, hingga tidak tersisa satu pun keturunan mereka, kecuali orang-orang yang berada di dalam bahtera Nabi Nūḥ. Dari penjelasan ini, penulis menyimpulkan bahwa menurut pandangan Rasyīd Riḍā, meskipun secara geografis tidak seluruh daratan dunia tersentuh badai al-Ṭūfān, namun secara eksistensi kehidupan, Allah telah membinasakan seluruh manusia durhaka pada masa itu. Dunia kemudian tidak lagi dihuni oleh orang-orang yang membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya, kecuali para pengikut Nabi Nūḥ. Hal ini pada hakikatnya sama dengan memusnahkan seluruh eksistensi kehidupan manusia di muka bumi pada masa tersebut, selain kaum yang beriman.

al-Tahir ibn 'Asyur

Pandangan ini juga tampak sejalan dengan pendapat al-Ṭāhir ibn ʿĀsyūr yang ditegaskannya dalam al-Taḥrīr wa al-Tanwīr. Menurutnya, meskipun badai al-Ṭūfān hanya terjadi di sebagian wilayah dunia, populasi manusia pada masa itu terbatas pada satu lokasi saja, dan seluruh manusia di lokasi tersebut merupakan kaum Nabi Nūḥ. Karena itu, pembersihan manusia durhaka tersebut pada akhirnya berlaku secara global, mengingat manusia pada masa itu belum tersebar ke berbagai belahan dunia sebagaimana kondisi saat ini.

Selain itu, penulis juga menilai bahwa asumsi tentang keberadaan manusia yang hidup di Cina, India, Jepang, dan wilayah lain sebagaimana dikemukakan oleh Syahrūr belum dapat dibuktikan secara pasti. Ditambah lagi, populasi manusia pada masa Nabi Nūḥ masih sangat terbatas. Oleh karena itu, istilah al-arḍ dapat dimaknai sebagai sebagian daratan dunia yang pada masa itu menjadi satu-satunya wilayah tempat manusia hidup, yakni tempat umat Nabi Nūḥ dan kaumnya bermukim.

Namun demikian, sejumlah mufassir lain berpendapat bahwa peristiwa badai al-Ṭūfān pada masa Nabi Nūḥ berlaku secara global. Rasyīd Riḍā dan Ibn ʿĀsyūr, misalnya, menguatkan pandangan ini dengan merujuk Surah Nūḥ ayat 26:

وَقَالَ نُوْحٌ رَّبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْاَرْضِ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ دَيَّارً

Kata al-arḍ yang disertai partikel penafian (lā) dipahami oleh sebagian mufassir sebagai penunjuk kepada seluruh daratan dunia, sehingga mengisyaratkan bahwa peristiwa al-Ṭūfān terjadi secara global. Meski demikian, terdapat dua penafsiran utama terkait makna al-arḍ: pertama, badai al-Ṭūfān benar-benar meliputi seluruh daratan dunia tanpa terkecuali; kedua, badai tersebut hanya terjadi pada daratan tempat seluruh manusia pada masa Nabi Nūḥ berkumpul, sementara tidak ada manusia lain di luar kaum Nabi Nūḥ. Kedua pandangan ini, pada hakikatnya, tetap dapat dipahami dalam kerangka makna global.

Adapun fakta bahwa Nabi Nūḥ hanya diutus kepada kaumnya dan bukan kepada seluruh alam memang benar adanya, namun hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa cakupan wilayah terdampak badai al-Ṭūfān bersifat terbatas.

Referensi:

Muḥammad Syahrūr, al-Qaṣaṣ al-Qurʾānī; Qirāʾah Muʿāṣirah (Beirut: Dār al-Sāqī, 2010), h. 55.

Rasyīd Riḍā, Tafsīr al-Manār, jilid 12, h. 89.

Muḥammad al-Ṭāhir ibn ʿĀsyūr, al-Taḥrīr wa al-Tanwīr, jilid 23, h. 123.

 


Bagikan Artikel:

Link berhasil disalin!

Rekomendasi Untuk Anda

Berikut beberapa artikel menarik lainnya yang mungkin Anda sukai